Perubahan fungsi seksual dan kebiasaan petugas kesehatan selama wabah COVID-19 yang sedang berlangsung: studi survei cross-sectional

Latar belakang:

Efek psikososial negatif dari pandemi COVID-19 yang sedang berlangsung pada petugas kesehatan meningkat di seluruh dunia.

Tujuan:

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki dampak paparan jangka panjang petugas kesehatan terhadap wabah COVID-19 pada kebiasaan dan fungsi seksual mereka.

Metode:

Sebanyak 263 petugas kesehatan menyelesaikan kuesioner online ini antara 1 Desember 2020 dan 31 Januari 2021. Setelah persetujuan dari para peserta, bagian pertama dari survei tiga bagian ini mencakup data demografi, status penyakit COVID-19, dan kebiasaan seksual sebelum dan setelah COVID-19, penilaian fungsi seksual dan status kecemasan di bagian kedua dan terakhir.

Hasil:

Sebanyak 240 peserta dilibatkan dalam penelitian ini. Dari peserta, 124 adalah laki-laki, 116 adalah perempuan. Rerata usia partisipan adalah 40,18 ± 7. Dibandingkan dengan periode sebelum pandemi, tingkat hasrat seksual petugas kesehatan (p = 0,000), frekuensi hubungan seksual mingguan (p = 0,001), durasi foreplay (p = 0,000), dan koitus durasi (p = 0,009) menurun selama periode pandemi yang sedang berlangsung. Ketika faktor-faktor yang mempengaruhi disfungsi seksual dievaluasi dengan analisis regresi logistik multivariat, ditentukan bahwa jenis kelamin perempuan (OR 0,312), skor kecemasan yang tinggi (OR 0,949), dan penurunan kualitas waktu sosial yang dihabiskan dengan pasangan atau pasangan merupakan faktor risiko disfungsi seksual. ATAU 0,358).

Kesimpulan:

Dukungan psikologis yang diberikan kepada petugas kesehatan selama masa pandemi yang sedang berlangsung akan meningkatkan kebiasaan dan fungsi seksual mereka yang terkena dampak negatif dari wabah COVID-19, serta kehidupan sosial mereka dengan pasangan atau pasangannya.

Kata kunci:

COVID-19; Petugas kesehatan; Pandemi; Disfungsi seksual.