Keinginan fertilitas ODHA: apakah penerapan model integrasi HIV dan kesehatan seksual dan reproduksi mengubah sikap penyedia layanan kesehatan dan keinginan klien?

Latar Belakang:

Perlu adanya informasi dan dukungan layanan kesehatan untuk keinginan fertilitas dan kebutuhan kontrasepsi orang dengan HIV (ODHA) untuk memberikan dukungan konsepsi yang lebih aman bagi pasangan sero-diskordan yang ingin hamil dengan aman. Sebuah model untuk mengintegrasikan layanan kesehatan seksual dan reproduksi dan HIV dikembangkan dan diimplementasikan di rumah sakit distrik dan enam klinik di Distrik eThekwini, Afrika Selatan.

Metode:

Untuk mengevaluasi keberhasilan model, survei cross-sectional dilakukan sebelum dan sesudah implementasi model. Sebagai bagian dari evaluasi ini, keinginan fertilitas ODHA (baik laki-laki maupun perempuan), dan perspektif penyedianya dieksplorasi. Perubahan keinginan dan sikap setelah integrasi layanan diselidiki.

Hasil:

Empat puluh enam penyedia layanan kesehatan dan 269 klien (48 laki-laki, 221 perempuan) disurvei pada awal, dan 44 penyedia dan 300 klien (70 laki-laki, 230 perempuan) di endline. Berbagai faktor termasuk status hubungan, paritas dan akses pengobatan antiretroviral (ART) mempengaruhi keinginan ODHA untuk memiliki anak. Kekhawatiran terhadap kesehatan diri sendiri dan anak berdampak negatif pada keinginan fertilitas ODHA. Kekhawatiran ini menurun setelah integrasi layanan. Demikian pula, kekhawatiran penyedia tentang ODHA memiliki anak menurun setelah penerapan model.

Kesimpulan:

Pelayanan terpadu penting untuk memfasilitasi pemberian informasi tentang pilihan kontrasepsi serta informasi konsepsi yang lebih aman bagi ODHA yang ingin memiliki anak.

Kata kunci:

Klien; keinginan kesuburan; HIV positif; Integrasi; ODHA; Pemberi; Afrika Selatan.